Suara mesin singshong itu masih terngiang di telingaku, menderu suara tetasan keringatmu yang jatuh di atas knalpot singshong yang panas membara di antara pepohonan besar yang rebah di tangan Ayah. Namun, di balik kerasnya suara mesin dan otot-otot yang menegang, ada sebuah suara yang jauh lebih lantang dan berwibawa, suara yang ingin saya jadikan fondasi dalam hidup.
Ucapnya suatu hari dengan tatapan yang menembus sanubari, “Ingatlah nak, tidak ada satu biji beras pun yang masuk ke dalam perut kalian tanpa tetesan keringat dari pekerjaan yang halal. Ayah tidak pernah memberi kalian makan dari hasil mencuri, atau menipu.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat; itu adalah sebuah prinsif dan Integritas. Di waktu itu, tahun 80-an, menghidupi sembilan orang anak dengan prinsip “haram mencuri” adalah sebuah perjuangan yang nyaris mustahil bagi banyak orang.
Namun bagi Ayah, kejujuran adalah harga mati. Beliau lebih memilih memeras keringat di bawah terik matahari hamparan persawahan Desa Banggae, memadukan usaha batu bata, menarik dokar, hingga menaklukkan hutan dengan singshong-nya, daripada memberi kami suap nasi yang kotor.
KESAKSIAN AKHIR YANG BERCAHAYA.
Puluhan tahun berlalu, prinsip itu pun memanen hasilnya. Tahun 2024 menjadi saksi betapa alam dan Sang Pencipta memuliakan pemegang prinsip ini. Ayah pergi bukan dengan penderitaan, melainkan dengan keanggunan seorang pemenang.
Beliau seolah telah berjanji dengan waktu. Menjelang akhir nafasnya, beliau meminta hari dan jam tertentu dan tepat pada saat itu, beliau berpulang. Tidak ada aroma kematian yang biasanya menyesakkan; yang ada hanyalah tubuh yang ringan, wajah yang bersinar seperti fajar, dan sendi-sendi yang tetap lentur seolah beliau hanya sedang tidur setelah lelah bertani, bergulat dengan singshong dan batu bata. Saya berdiri di sana, menyaksikan keajaiban itu, dan menyadari satu hal: Tubuh yang dibangun dari makanan yang halal, akan kembali ke dalam keadaan yang mulia.
ESTAFET YANG BERLANJUT.
Kini, saya berdiri di garis depan sebagai aktivis sekaligus sebagai jurnalis. Saya mungkin tidak lagi memegang kemudi dokar atau mesin singshong seperti Ayah. Senjata saya sekarang adalah pena, data, dan gelar hukum. Namun, ruh yang menggerakkannya tetap sama.
Setiap kali saya menghadapi tekanan saat menginvestigasi kasus, setiap kali saya merasa goyah dalam advokasi hukum, saya selalu kembali ke “Satu Biji Beras” itu. Apakah saya mampu seperti Ayah, yang mampu menjaga sembilan anak tetap bersih dari makanan haram, saya pun terkadang ragu di zaman ini, dulu ayah bergulat oleh kerasnya kehidupan sekarang kami harus bergulat, memilih antara kepentingan dan kebenaran. Terkadang saya tidak punya alasan untuk menjual integritas saya demi jabatan atau rupiah.
SOSOK DI BALIK ASAP DAN TANAH
Di Banggae, Dusun Jarrannika, nama Baso Daeng Tulo’ bukan cuma nama. Itu adalah simbol orang yang tidak pernah menyerah.
Ayah saya itu banyak pekerjaannya. Petani, tukang singshong, sampai pengusaha batu merah. Orangnya tegas, disiplin, dan paling benci kebohongan. Apa yang dikatakan, itu harus dilakukan. Tidak ada kompromi.
Di tangannya, tanah bisa menghasilkan, kayu bisa diolah, batu bata bisa jadi rumah. Beliau mengajarkan satu hal: Rezeki itu ada, tapi harus diambil dengan tangan sendiri dan jalan yang benar.
KERASNYA DIDIKAN, LEMBUTNYA CINTA
Kami sembilan bersaudara, saya anak kelima. Didikan Ayah itu keras. Beliau pegang teguh adat Panggadakkang. Bangun pagi, kerja cepat, tidak boleh menunda-nunda. Kalau diperintah, langsung laksanakan.
Dulu saya sering marah dan jengkel. Sebagai remaja, rasanya muak tiap hari diceramahi, dimarahi kalau salah atau lalai. Saya sering membantah, menentang, merasa Ayah itu terlalu kaku.
Tapi sekarang saya sadar, beliau tidak pernah salah satu kali pun. Hanya saja kami yang belum paham.
Beliau pernah berkata: “Ayah akan tetap mengajari kalian, tetap menegur, meskipun kalian benci sama Ayah. Itu tugas Ayah.”
Beliau rela dibenci anaknya sendiri, asal kami kelak jadi orang baik. Itulah cintanya.
Penjaga Malam
Meski siang hari mukanya galak dan sering marah, malam harinya lain lagi. Tidur Ayah tidak pernah nyenyak. Beliau sering bangun, keliling, waspada takut ada orang yang berniat jahat atau membahaya kami. Kalau melihat kami tidur tanpa selimut, beliau selalu menyelimuti, beliau tidak pernah pilih kasih. Semua anaknya sama, diperlakukan adil.
FILOSOFI HIDUP DAN KEARIFAN ALAM
Ayah sosok yang hebat, bukan cuma pintar membaca dan menulis tapi pintar baca alam. Kalau beliau menabur padi, warga desa pasti ikutan. Tanaman beliau jarang kena hama, bisa prediksi hujan kapan turun. Seolah-olah alam itu teman beliau.
Selain itu, beliau jago silat/Manca, bisa main Kacaping, dan nyanyi syair. Orangnya multitalenta/lengkap, kuat dan tegas tapi halus budinya.
Pesan beliau yang paling saya ingat adalah
“Jangan cuma jadi manusia, tapi jadilah manusia yang mulia di mata Allah, dan Itu hanya bisa dilakukan ketika kalian masih muda dan sehat.
DI ATAS KAKI SENDIRI, DI BAWAH LANGIT ALLAH
Kehidupan dulu itu susah sekali, sebelum memasuki tahun 2000-an atau milenial. Saya ingat sekali saat musim kemarau panjang, beras habis, terpaksa makan nasi jagung setiap hari.
Bayangkan, 11 orang makan setiap hari dengan lauk seadanya bahkan tanpa lauk. Ayah, Ibu sangat khawatir mikir besok makan apa. Namun berkat kepintaran Ayah menyimpan jagung hasil panen sendiri, yang sudah dipersiapkan sehingga kami bisa bertahan. Beliau sepertinya sudah tahu akan terjadi kemarau panjang dan gagal panen, Ayah memang orangnya selalu siap siaga.
Membeli Tanah untuk Anak
Masuk tahun milenial, hidup mulai agak membaik. Namun Ayah makin bekerja keras. Beliau rajin menabung, cari uang, persiapan beli tanah. Tujuannya cuma satu: Supaya anak-anaknya punya tempat tinggal, tidak “lontang lantung” kesana kemari suatu hari nanti. Dan
Alhamdulillah, dihari tua beliau berhasil. Semua anaknya dapat bagian tanah untuk bangunan rumah.
Harapan besar Ayah juga tercapai, yaitu ada diantara kami yang menjadi abdi negara walaupun cuma satu yaitu Rustam si bungsu sebagai Tentara. Wajah Ayah waktu melihat anaknya pakai dinas, terlihat sangat bangga.
KEPERGIAN SANG AYAH
Waktu beliau sakit dan sebelum berpulang pada tahun 2024, ada yang terasa berat dan mengganjal di hati beliau. Ayah berkata, “Maut ini sudah tidak mau nunggu lagi nak, saya masih ada satu keinginan yaitu melihat adikmu menikah.”
Beliau ingin melihat anak bungsunya menikah sebelum berpulang, barulah ia merasa tugasnya selesai. Namun kehendak ALLAH lah diatas segalanya Tapi setelah mendengar keridhoan anak-anaknya terutama Rustam si bungsu, barulah hati Ayah merasa tenang dan siap pulang untuk selamanya.
Kepergiannya jadi saksi. Wajah bersinar, badan tidak bau, dan tubuhnya ringan diangkat, bukti orang yang selama hidupnya berpegang teguh pada prinsif ajaran Islam, berpihak di jalan ALLAH jalan kebenaran. Beliau tahu betul ilmu hakikat dan yang terpenting beliau mampu menjalankan, tentu atas izin Allah. makanannya halal, pasti mulia kematiannya.
MEWARISI GARIS LURUS DAN SEBUAH PENYESALAN
Saya merasa sedikit mewarisi ketegasan Ayah, cara pandangnya, dan perasaannya. Sekarang saya jadi jurnalis, paralegal, dan aktivis. Saya pernah jadi Sekdes dan memilih mengundurkan diri demi prinsif dan jalan hidup. saya mundur, karena tidak mau melanggar prinsip yang diajarkan Ayah. Saya tidak bisa bohong demi jabatan.
Tapi ada satu hal yang paling menyakitkan buat saya sampai saat ini. Harapan yang Patah. Dulu, harapan Ayah kesaya besar sekali. Beliau sepertinya melihat tanda-tanda, beliau menaruh harapan yang besar kepada saya bakal bikin beliau bangga, suatu hari jadi orang sukses, tapi saya malah mengecewakannya. Saya tidak bisa jadi seperti yang beliau harapkan. Tidak menyangka Kebanggaan itu akhirnya jatuh ke pada Rustam adik kami yang bungsu.
Saya sering menyalahkan diri sendiri. Rasanya sakit sekali. Saya gagal bikin Ayah tersenyum bangga seperti yang beliau inginkan dulu. Walaupun beliau sempat melihat saya jadi Sekdes, tapi senyum itu tidak lama.
Setiap kalimat dari goresan ini, air mata tak terasah jatuh bercucuran. Rindu dan rasa bersalah bercampur jadi satu.
GARIS LURUS DI ATAS TAKDIR
Ayah…
Maafkan anakmu ini. Saya tahu saya belum sempurna. Saya pernah membantah, saya pernah mengecewakan harapanmu. Saya akan berusaha tidak akan khianati INTEGRITAS. Saya mungkin tidak bisa menjadi apa yang Ayah harapkan, tapi saya akan berusaha jadi orang yang berintegritas jujur dan amanah seperti Ayah. Makan dari yang halal, berdiri di atas kebenaran.
Terima kasih untuk semua perjuangan Ayah keringat, marah, dan semua cintanya. Engkau adalah ayah terhebat, selalu ada di hati kami, para anak-anakmu. ALLAH memberimu tempat mulia dan terbaik di sisiNYA.
Kisah ini nyata, dan akan selalu hidup di hati para anak terhadap sosok sang ayah sejati.
Redaksi targetpemburu.com mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap pembaca.







Tinggalkan Balasan