Tajam & Terpercaya

Menemukan Kembali Jati Diri Bangsa Indonesia, Antara Diperdaya Atau Terpedaya.
, , ,

Menarik untuk dibaca!!!👇👇👇

Karya Tulis inspiratif
Oleh Ruslan

Selama ini, ada kecenderungan kolektif di mana bangsa kita terjebak dalam rasa kagum yang berlebihan terhadap dunia luar. Kita sering kali mendewakan kemajuan bangsa asing hingga tanpa sadar terjebak dalam gaya hidup imitasi. Padahal, segala sesuatu memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik. Apa yang menjadi kekayaan fundamental Indonesia belum tentu dimiliki oleh negara maju, begitupun sebaliknya. Namun, mengapa kita seolah kehilangan percaya diri atas apa yang kita genggam sendiri?

Muncul sebuah pertanyaan reflektif: mungkinkah kita tidak mampu hidup sejahtera dan bahagia tanpa kemajuan teknologi, tanpa alat-alat canggih dan modern, apakah cara hidup sederhana tanpa gedung-gedung tinggi yang megah begitu buruk dimata dan pemahaman kebanyakan orang? Atau boleh jadi, itu cara mereka untuk memperdaya kita? Kita seolah bergantung kepada mereka, padahal keadaan justru sebaliknya, kita tidak menyadari bahwa merekalah yang akan kesulitan tanpa kekayaan alam dan kontribusi Indonesia. Sayangnya, realita ini sering kali diputarbalikkan melalui narasi global yang tertata rapi dan meyakinkan, membuat kita merasa kecil di rumah sendiri, sehingga telah mempercayai, membanggakan dan mengikuti mereka, sehingga menghiraukan Rakyat sendiri. Lantas siapakah yang salah apakah mereka yang salah atau justru kita sendiri yang salah? Lantaran malas dan tidak mau iqra (belajar)?

Seandainya saja dari dulu kita menyadari bahwa hidup apa adanya, itu lebih baik, lebih tenang, lebih bahagia dan lebih mulia karena alam indonesia telah meyediakan segalanya secara terbaharukan tanpa harus mengejar keserakahan dengan mengorbangkan alam yang kita pijak.

Kita digiring perlahan menuju konsep hidup yang layak, mereka memperlihatkan atau mempertontonkan semata hanya untuk meyakinkan bahwa inilah kenikmatan hidup yang sebenarnya, walaupun didalamnya tersembunyi tujuan lain, hanya untuk kepentingan diri mereka sendiri, naasnya kebanyakan dari kita percaya akhirnya terperdaya, kita tidak mampu melihat, membaca dan mengetahui maksud dan tujuan mereka yang sesungguhnya atau kalaupun kita mengetahui kita tidak menghiraukan lantaran mengikuti nafsu yang tanpa hak, kenikmatan yang bersifat semu atau sesaat.

Di mata mereka standar kemajuan untuk kenikmatan hidup hanya diukur melalui kecanggihan teknologi dan gaya hidup modern. Namun, mari kita renungkan kembali: apakah benar manusia tidak bisa mencapai kualitas hidup yang lebih baik tanpa kemajuan teknologi? Apakah kemajuan teknis ini murni untuk kesejahteraan, atau justru manifestasi dari keserakahan manusia yang menjadi benih awal bagi kehancuran ekosistem dan kemanusiaan itu sendiri?

Di sinilah pentingnya pengetahuan. Kedangkalan literasi dan wawasan membuat bangsa ini mudah terperdaya, terpengaruh, bahkan terprovokasi oleh kepentingan luar. Kita cenderung menelan mentah-mentah informasi yang terlihat estetis dan terdengar meyakinkan, sehingga mengabaikan bangsa sendiri, persis seperti muslihat yang halus dalam memperdaya kesadaran manusia, seperti halnya yang dilakukan oleh syaitan dalam memperdaya manusia.

Oleh karena itu, dasar perlindungan diri yang paling hakiki adalah IQRA—perintah untuk membaca, menelaah, dan memahami segala sesuatu hingga ke akarnya (hakikat). Maka kembalilah kalian mengkaji islam lebih teliti dan menerapkannya sebab disitulah kebenaran yang sesungguhnya tanpa keraguan. Dunia hari ini dipenuhi oleh orang-orang pintar secara intelektual, namun kering akan pemahaman esensial. Tanpa kemampuan memahami hakikat, kepintaran tanpa iman pasti akan disalah gunakan dan hanya akan menjadi alat untuk diperalat.

Mari kenali ciri-ciri manusia telah menjadi syaitan namun tidak menyadari.

  1. Tidak senang, benci dan iri dengan pencapaian orang lain.
  2. Tidak suka melihat orang lain lebih pintar, lebih unggul, lebih kaya dari dirinya.
  3. Selalu dalam kemunafikan, terlihat ramah, bijak dll
  4. Takut dengan penilaian orang lain.
  5. Takut menghadapi resiko atas keperpihakan nya terhadap yg Hak.

Karya Tulis inspiratif: Ruslan DK

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *