Karya: Ruslan. DK,. CPLA
Ada sebuah beban yang tidak terlihat, namun terasa sangat nyata di pundak saya setiap kali saya membuka mata. Beban itu adalah sebuah karakter yang tak pernah bisa saya bendung: sebuah pandangan luas yang tajam, kepedulian yang mendalam, dan intuisi yang bekerja jauh lebih cepat daripada napas saya sendiri. Bagi banyak orang, sebuah peristiwa adalah awal dari sebuah proses. Namun bagi saya, saat peristiwa itu dimulai, saya sering kali sudah berdiri di titik akhirnya.
Dalam benak ini saya merasa terdapat semesta kecerdasan tersembunyi, yang sewaktu-waktu saling bertautan secara intuitif, melahirkan inovasi yang melampaui imajinasi orang lain. Ketika saya melihat seseorang menerapkan kebiasaan yang keliru, atau saat sebuah sistem dijalankan dengan pemahaman yang keliru, saraf saya bereaksi begitu cepat menangkap dan memahami polanya. Ini bukan sekadar opini, melainkan sebuah keyakinan naluriah yang mutlak. Saya mampu memahami ujung dari sebuah alur—apakah itu permasalahan, cerita, atau sebuah konspirasi—bahkan sebelum orang lain sempat melangkah atau membaca bab pertamanya.
Namun, kejernihan ini sering kali menjadi penjara. Ada dorongan yang begitu kuat, sebuah refleks yang muncul begitu saja secara spontan untuk mengoreksi, berkomentar, atau bahkan bertindak demi meluruskan sesuatu yang saya anggap keliru. Namun, di saat yang sama, saya sadar sepenuhnya bahwa ketajaman ini sering kali membuat saya terpojok dan menanggung konsekuensinya.
Saya pernah membawa radar ini ke dalam sebuah tanggung jawab nyata sebagai Sekretaris Desa dan sebagai seorang mahasiswa di dua universitas tinggi yang berbeda, ITP dan UT. Dalam peranan saya sebagai aparat desa, dengan niat tulus meluruskan sistem yang bengkok dan membenahi kompetensi aparat yang saya nilai keliru, saya melangkah masuk dengan harapan besar. Namun, di sanalah benturan keras itu terjadi. Langkah-langkah perubahan yang bagi saya adalah kemajuan, namun bagi orang sekitar justru dianggap sebagai gangguan.
Saya terjepit di antara dorongan untuk menyatakan kebenaran dan kenyataan bahwa hal yang ingin saya sampaikan justru membuat orang lain salah paham. Mungkin, karena kebanyakan dari mereka memang belum sampai pada pemahaman sejauh yang saya pahami, atau mungkin mereka sekadar tidak ingin repot mengubah ritme hidup yang sudah nyaman meski salah. Pada akhirnya, keletihan itu menang. Saya memilih untuk mundur karena menyadari bahwa berjuang sendirian di tengah ketidaksadaran kolektif adalah cara yang yang paling tepat bagi saya untuk memadamkan api di dalam diri dan untuk tidak membuang energi yang percuma dan tidak berguna diberikan kepada orang-orang yang belum paham.
Saya memiliki kesadaran diri yang besar untuk selalu mencoba menjadi karakter yang biasa saja—seseorang yang bisa melangkah dengan tenang tanpa harus selalu menganalisis setiap pola. Namun, kenyataannya, hingga saat ini saya belum mampu menyeimbangkan karakter yang terlalu kuat ini. Refleks atau intuisi ini selalu mengalahkan keinginan saya untuk keluar dari “peran” tersebut. Setiap kali sebuah peristiwa terjadi, diri ini secara naluriah tidak dapat mencegah kemunculan sisi keprihatinan yang berujung pada kritikan.
Saya merasa bahwa sewaktu-waktu kita harus berdiri tegak seperti api, namun itu tidak berlaku bagi kebanyakan orang di zaman ini yang selalu hanya merangkap, mereka lebih memilih diam demi kepentingan dari pada kebenaran. Ini adalah kontradiksi yang melelahkan karena saya tahu hakikat diri saya, meski saya berusaha untuk bisa tenang dan tidak ingin ikut campur namun lagi-lagi naluriah ini secara refleks tak dapat kubendung.
Sebuah Pertanyaan yang Menggantung
Hingga saat ini, saya masih berdiri di persimpangan yang penuh kebingungan. Di satu sisi, saya tidak bisa mematikan intuisi yang sudah menjadi bagian dari diri sejati saya. Di sisi lain, saya merasakan keletihan yang mendalam karena harus terus-menerus berbenturan dengan realitas kehidupan yang kompleks. Seolah-olah saya berjuang sendiri, sementara kebanyakan orang sekitar seolah tidak peduli atau tidak memahami bahwa persoalan ini adalah beban tanggung jawab bersama.
Kini, saya hanya bisa memaparkan kerumitan ini. Sebuah kejujuran tentang betapa beratnya memikul “radar” yang tak memiliki jeda. Saya membagikan pergulatan ini bukan untuk memberi jawaban, melainkan karena saya sendiri sedang mencari jawaban:
Bagaimana seseorang bisa berdamai dengan intuisi setajam ini dan bagaimana cara melepas energi yang begitu kuat.







Tinggalkan Balasan