Tajam & Terpercaya

Kita yang Tak Punya Gaji dan Tunjangan Saja Peduli, Bagaimana dengan Mereka yang Digaji dari Uang Rakyat?

Ada ironi yang patut kita renungkan.

Kita yang tidak punya gaji tetap, tidak punya tunjangan, bahkan harus merogoh kocek sendiri, justru masih mau peduli terhadap semangat dan prestasi anak-anak. Kita hadir, mendukung, mencari lapangan, membantu perlengkapan, bahkan rela mengorbankan waktu dan tenaga agar mereka punya ruang untuk berkembang.

Lalu pertanyaannya sederhana: bagaimana dengan mereka yang setiap bulan menerima gaji, tunjangan, fasilitas, dan berbagai sumber pembiayaan yang berasal dari uang rakyat?

Apakah kepedulian terhadap anak-anak hanya berhenti pada seremoni, spanduk, ucapan selamat, dan foto bersama?

Anak-anak tidak membutuhkan sekadar tepuk tangan ketika mereka menjadi juara. Mereka membutuhkan fasilitas, pembinaan, kompetisi yang sehat, lapangan yang layak, dan perhatian yang nyata.

Jangan sampai kita sibuk berbicara tentang generasi emas, tetapi ketika generasi itu sedang berjuang dari bawah, justru dibiarkan berjalan sendirian.

Prestasi anak-anak bukan muncul secara tiba-tiba. Ada orang tua yang berkorban, ada pelatih yang bekerja tanpa banyak bicara, ada masyarakat yang bergotong royong, dan ada anak-anak yang berlatih keras meski fasilitas terbatas.

Ironisnya, mereka yang paling banyak berkorban sering kali justru mereka yang tidak menerima gaji maupun tunjangan dari perjuangan tersebut.

Maka jangan salahkan anak-anak jika suatu hari prestasi olahraga daerah tertinggal. Jangan hanya muncul ketika mereka sudah mengharumkan nama daerah.

Kalau memang serius membangun generasi emas, buktikan sebelum mereka menjadi juara—bukan setelah mereka mengangkat trofi.

Dan kepada para pemegang kebijakan, pertanyaan ini layak dijawab:

Ketika masyarakat yang tidak digaji saja mau peduli terhadap masa depan anak-anak, apa alasan mereka yang digaji dan diberi tunjangan justru tidak berbuat lebih banyak?

Karena pada akhirnya, jabatan bukan hanya tentang hak menerima. Ada kewajiban untuk memberi kembali kepada masyarakat, terutama kepada anak-anak yang merupakan masa depan daerah dan bangsa.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *