
_Korban Minta Sanksi Tegas: Layanan Publik Bukan Tempat Menghakimi Fisik Penumpang_
BATAM – Insiden tidak menyenangkan menimpa salah satu penumpang Goride Batam. Penumpang tersebut disuruh turun oleh driver berinisial KS dengan nada kasar, hanya karena ukuran tubuhnya dianggap “seharusnya pesan motor besar”. Peristiwa ini memicu sorotan publik soal standar pelayanan dan etika driver ojek online di Batam, Selasa [9/6/2026].
IKLAN PEMDA TAKALAR

Kronologi bermula saat penumpang memesan Goride. Setibanya driver KS datang, ia langsung berkomentar kasar: “Kenapa bapak tidak pesan yang motor besar, karena ukuran badan bapak harusnya motor besar.”
Penumpang membalas dengan logis: tidak ada aturan yang mewajibkan memilih motor besar atau kecil berdasarkan postur tubuh. Alih-alih berdialog baik, driver KS justru memerintahkan penumpang turun dari motor dengan nada tinggi dan kasar. Perjalanan pun batal.
“Ini Penghinaan, Bukan Pelayanan”
Penumpang mengaku merasa dilecehkan dan dipermalukan di ruang publik. “Saya pesan layanan, bukan dihina fisik. Saya bayar sesuai aplikasi. Tidak ada syarat badan harus kurus atau gemuk untuk naik motor kecil. Kalau driver tidak nyaman, tolak baik-baik, jangan usir dengan kasar,” ujarnya.
Ia mendesak Goride Batam segera memproses driver KS dan memberi sanksi tegas. “Ojek online itu layanan publik. Driver adalah wajah perusahaan. Sikap kasar seperti ini merusak kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Aturan Main Jelas: Driver Wajib Sopan & Tidak Diskriminatif
Kode Etik dan Standar Pelayanan Goride mewajibkan driver bersikap ramah, sopan, tidak diskriminatif, dan tidak membatalkan order sepihak tanpa alasan darurat. Membatalkan perjalanan karena alasan postur tubuh penumpang jelas melanggar prinsip diskriminasi.
Jika terbukti, driver KS bisa dikenai sanksi berjenjang: mulai dari peringatan, pemotongan insentif, suspensi akun, hingga pemutusan mitra permanen. Itu sesuai SOP kebanyakan platform transportasi online.
Tuntutan ke Goride Batam: Audit & Sanksi
Penumpang meminta Goride Batam:
1. Periksa driver KS dan berikan sanksi tegas sesuai pelanggaran.
2. Sampaikan permintaan maaf resmi kepada korban sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan.
3. Perkuat edukasi ke seluruh driver soal etika, anti-diskriminasi fisik, dan penanganan komplain.
“Goride tumbuh besar karena kepercayaan penumpang. Jangan biarkan satu driver kasar merusak nama baik ribuan driver lain yang profesional,” pungkas korban.
Wartawan targerpemberu.com masih berupaya menghubungi manajemen Goride.






Tinggalkan Balasan