TAKALAR – 01/09/2023 – Empan Tepo’ yang kini dikenal luas oleh masyarakat Kabupaten Takalar ternyata menyimpan sejarah panjang yang memprihatinkan. Siapa sangka, kawasan perairan yang kini telah diambil alih oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dan diserahkan kepada Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) tersebut, dulunya merupakan bentangan lahan pertanian yang sangat subur milik warga Desa Banggae.
Berdasarkan penuturan sejumlah warga setempat yang mengetahui persis asal-usul kawasan ini, Empan Tepo’ sekitar tahun 1950 awalnya hanyalah sebuah aliran sungai kecil dengan lebar sekitar 3 hingga 5 meter. Aliran ini menghubungkan Sungai Pappa langsung menuju ke laut. Masalah mulai timbul ketika air laut pasang dan meluap, mengalir masuk tanpa hambatan ke lahan pertanian produktif milik warga.
“Karena proses ini berlangsung secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama, abrasi atau pengikisan tanah oleh air garam terjadi secara masif hingga mencapai wilayah Dusun Jarannika,” ujar salah seorang warga yang menjadi saksi sejarah kawasan tersebut.
Sifat air laut yang membawa kadar garam (salinitas) tinggi perlahan mengubah karakteristik tanah di Dusun Banggae hingga Dusun Jarannika. Lahan yang semula subur berubah menjadi asin, memicu gagal panen massal yang berkepanjangan dan diperparah dengan beban pajak dari pemda menyebabkan warga mengabaikan lahan tersebut.
Lahan tak bertuan itu kemudian telantar dan hanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai area gembala kerbau. Setiap hari, ribuan kerbau menginjak-injak kawasan tersebut. Akibatnya, pematang-pematang sawah yang tersisa habis terkikis, hancur, dan perlahan menyatu membentuk hamparan perairan yang luas.
Proses alam dan aktivitas ternak selama bertahun-tahun inilah yang akhirnya memperlebar aliran sungai kecil tersebut menjadi sebuah empang raksasa. Kawasan ini kemudian dinamakan Empan Tepo’, karena posisinya yang membelah atau memisahkan daratan antara wilayah sebelah Utara dan sebelah Selatan.
Sejarah kelam terbentuknya Empan Tepo’ ini memicu spekulasi dan penyesalan mendalam dari warga. Mereka menilai, andai saja pemerintah di masa lalu memberikan perhatian serius dengan membangun infrastruktur pencegah abrasi, ceritanya akan berbeda.
“Seandainya dulu pemerintah fokus membangun tanggul atau pintu air untuk mencegah air laut masuk saat pasang, mungkin lahan subur itu tidak akan berubah menjadi Empang Tepo’ seperti sekarang ini,” pungkas warga.
Kini, sisa-sisa kejayaan agraris Desa Banggae telah sepenuhnya sirna. Kawasan Empan Tepo’ yang terbentuk dari pembiaran dan abrasi puluhan tahun tersebut kini telah resmi diambil alih oleh Pemda Takalar dan diserahterimakan kepada pihak ISBI untuk pengembangan fasilitas pendidikan.







Tinggalkan Balasan