
BATAM —Target pemburu. Com.
Polemik mengenai keterlibatan guru dalam urusan penyediaan maupun pengawasan makanan siswa kembali memunculkan pertanyaan besar: sampai sejauh mana tugas guru harus diperluas di luar fungsi utamanya sebagai pendidik?
Guru memiliki tugas utama mengajar, mendidik, membimbing, dan membentuk karakter peserta didik. Karena itu, jangan sampai beban administratif maupun tugas-tugas di luar fungsi pendidikan justru membuat konsentrasi guru terhadap proses belajar mengajar menjadi terganggu.
Program pemenuhan makanan bagi siswa tentu merupakan hal yang penting. Anak-anak membutuhkan asupan yang baik agar dapat belajar dengan optimal. Namun, pelaksanaan program tersebut semestinya memiliki mekanisme, tenaga pelaksana, pengawasan, serta penanggung jawab yang jelas, bukan kemudian seluruh persoalan dibebankan kepada guru.
Guru bukan petugas katering, bukan pengelola dapur, dan bukan pula tenaga distribusi makanan. Ketika guru harus ikut mengurusi makanan, mulai dari penerimaan, pembagian, hingga persoalan teknis lainnya, dikhawatirkan waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk mendidik siswa justru tersita.
Pertanyaannya sederhana: kalau guru terlalu sibuk mengurusi urusan di luar kegiatan belajar mengajar, kapan mereka fokus mempersiapkan materi, mengevaluasi kemampuan siswa, membimbing karakter, dan meningkatkan kualitas pendidikan?
Jangan sampai sebuah program yang tujuan awalnya baik justru dalam pelaksanaannya menciptakan beban kerja baru bagi guru.
Pemerintah dan pihak sekolah perlu membedakan secara tegas antara fungsi pendidikan dan fungsi pelayanan pendukung pendidikan. Jika memang diperlukan keterlibatan sekolah dalam program makanan siswa, harus ada pembagian tugas yang proporsional dan tidak mengorbankan tugas pokok guru.
Jangan sampai guru dipaksa menjadi “serba bisa”: mengajar iya, mendidik iya, mengurus administrasi iya, mengawasi makanan iya, bahkan menyelesaikan persoalan teknis lainnya juga iya.
Kualitas pendidikan tidak akan meningkat jika guru terus dibebani pekerjaan yang semakin jauh dari tugas pokoknya.
Pesannya jelas: program untuk kesejahteraan siswa harus didukung, tetapi jangan menjadikan guru sebagai pelaksana semua urusan. Kembalikan guru pada marwahnya — sebagai pendidik yang fokus mencerdaskan dan membentuk generasi bangsa.
Sebab pada akhirnya, tugas utama guru adalah mengajar dan mendidik. Bukan mengurusi segala sesuatu yang seharusnya memiliki tenaga dan sistem pelaksana tersendiri.(YD)






Tinggalkan Balasan