Tajam & Terpercaya

Tragedi Kebodohan Modern Saat Manusia Menukar Nafas Bumi Demi Kemewahan Instan dan Labirin Beton
, , , , ,

Indonesia, 05/07/2026 – Di bawah kendali sistem peradaban yang memuja materi, umat manusia saat ini tengah mempertontonkan sebuah tragedi kebodohan kolektif yang akut. Didorong oleh nafsu untuk hidup serba instan, mengejar gengsi kemewahan semu, dan kenyamanan egois, manusia modern secara sadar sedang menggergaji dahan pohon yang sedang mereka duduki sendiri. Mereka merasa pintar dengan segala gelar dan teknologi, padahal tindakan mereka adalah wujud nyata dari kebodohan yang ditunggangi keserakahan, hingga akal sehatnya tak lagi mampu menjangkau kebenaran yang paling mendasar.

Tragedi ini berakar dari pergeseran moral dan cara pandang. Atas nama “gaya hidup modern”, manusia hari ini tega menghancurkan bentang alam secara permanen. Gunung-gunung yang secara geologis berfungsi sebagai pasak bumi diratakan demi batu dan semen. Perut bumi dikeruk habis untuk menyedot minyak, gas, dan mineral, meninggalkan rongga-rongga kosong bawah tanah yang memicu amblesnya permukaan bumi dan mencemari jalur hidrologi air bersih. Bahkan, pasir-pasir di sungai dikuras tanpa sisa, menghancurkan filter alami air dan memicu erosi yang meruntuhkan ruang hidup mereka sendiri.

Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan jika dibandingkan dengan kearifan ekologis orang-orang tua terdahulu. Generasi masa lalu membangun tempat tinggal dengan cara hidup sederhana namun cerdas; mereka menggunakan bahan terbarukan dari alam seperti kayu dan bambu, tanpa perlu membabat habis seluruh hutan. Ada hukum adat tidak tertulis yang sakral: ketika menebang satu pohon, mereka wajib menanam kembali bibit baru demi menjaga keseimbangan sirkulasi alam untuk anak cucu.

Sebaliknya, manusia modern menganggap cara hidup selaras itu “kuno” dan tertinggal. Dengan sombongnya, mereka menyingkirkan setiap jengkal pohon yang rindang, lalu mengeruk tanah subur hanya untuk dibakar menjadi miliaran batu bata dan beton gersang. Mereka mengganti hutan yang sejuk dengan labirin beton yang menciptakan pulau panas (urban heat island). Akibatnya, manusia hari ini harus membayar mahal kesombongan tersebut dengan hidup di bawah kepungan hawa panas yang menyengat, bencana hidrometeorologi, dan polusi udara yang mencekik dada.

Keserakahan telah membutakan mata hati manusia sehingga mereka gagal melihat bahwa manfaat hutan yang berdiri tegak dan bumi yang utuh jauh lebih besar—secara ekonomi jangka panjang, kesehatan, dan keberlanjutan nafas hidup—daripada tumpukan uang dari hasil mengeksploitasinya. Manusia modern telah kehilangan kemampuan berpikir jangka panjang, seolah-olah mereka memiliki planet cadangan untuk melarikan diri ketika ekosistem ini benar-benar runtuh total (amblas).

Ini bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah seruan moral dan panggilan darurat bagi setiap manusia yang masih memiliki nurani. Menjadi modern tidak harus menjadi serakah dan bodoh. Sudah saatnya dunia internasional, pembuat kebijakan, dan masyarakat global menundukkan kepala, belajar kembali pada kearifan masa lalu tentang prinsip ambil dan ganti, serta menyadari bahwa setiap kerusakan yang kita perbuat hari ini adalah tanah kuburan yang kita gali sendiri untuk esok hari.

Sebelum dahan tempat kita berpijak ini patah total dan membawa seluruh peradaban jatuh ke dalam kepunahan yang tragis, kesadaran ekologis harus dibangkitkan sekarang juga. Berhentilah merusak rumah tempat kita bernafas.

Tulisan ini sebagai panggilan moral terbuka untuk mengusik kenyamanan semu manusia modern, mendorong evaluasi total atas arah pembangunan global, serta mengajak seluruh jaringan media massa untuk menyuarakan kebenaran ekologis yang selama ini tertutup oleh narasi keuntungan industri.

(Ruslan Dk)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *